Kopi Biji Salak, Usaha yang Sangat Menguntungkan

Setelah risegn dengan alasan bosan jadi karyawan bank  Eko Yulianto, pemuda 27 tahun ini melirik biji salak untuk diolah menjadi sesuatu bernilai jual tinggi. Siapa sangka biji salak yang dulunya hanya sampah, disulap Eko menjadi minuman yang memiliki aroma menyerupai kopi. Begitu juga dengan rasa dan warnanya.
Alhasil olahan biji salaknya ini dinamai Kopi Biji Salak atau Kopi Salak. Meskipun aroma khas kopi tidak bisa didapatkan pada minuman ini, namun tekstur dan rasa asam sedikit pahit sangat identik dengan kopi yang biasa dikonsumsi masyarakat.

Bermodalkan uang Rp500 ribu, Eko nekat mengembangkan usahanya. Tidak hanya Kopi Salak, dia juga memproduksi limbah biji dan kulit salak.
"Hasil kreasi limbah biji salak jadi Kopi Salak, kerajinan, bolu, stik, kripik salak, dan dodol," sebutnya.
Usahanya itu kemudian diberi nama dalam bahasa Jawa "Kie Bae" atau jika diterjemahkan artinya ‘begini saja'. Di tahun pertamanya yaitu 2012, Eko berhasil meraup omzet mencapai Rp47 juta per tahun. Bukan angka kecil untuk pemula seperti Eko.
Namun yang lebih mengejutkan lagi Omzet penjalan yang dihasilkan per tahun tumbuh 30 sampai 35 persen. Bahkan, omzet usaha Kopi Salaknya ini pada akhir tahun 2014 mencapai Rp82 juta per tahun. Laba bersih tumbuh 20-25 persen per tahun.
Sementara untuk laba bersih Eko pernah mencapai Rp20 juta. Melonjak 50 persen diakhir 2014 laba bersih Rp30 juta. Hingga kini jumlah aset yang dimiliki Eko tercatat Rp60 juta, termasuk mesin giling, pengering, sealer dan sudah mampu memberdayakan 20 ibu-ibu di kampungnya, Wonosobo, Jawa Tengah.
Dengan pengalaman menjadi pegawai bank, Eko memasarkan produknya dengan variatif. "Pemasaran dilakukan dengan mengikuti pameran-pameran, penjualan dengan online, distribusi ke pasar-pasar dan toko-toko," tukasnya.