
Permintaan cacing sutra yang terus meningkat membuat stok cacing sutra kekurangan. Hal ini disebabkan karena suplai cacing sutra secara umum masih mengandalkan tangkapan alam. Para penangkap cacing sutra mengambil cacing-cacing dari sungai dan kemudian menjualnya ke peternak langsung atau ke toko-toko ikan hias.
Apalagi pada musim penghujan, saat musim hujan aliran air pada sungai cukup deras sehingga cacing sutra sulit ditemukan. Kondisi ini mengakibatkan pasokan cacing sutra menurun, banyak peternak ikan atau penghobi mengantri sampai tidak kebagian.
Melihat kondisi ini budidaya cacing sutra menjadi pilihan yang mungkin untuk dilakukan. Budidaya cacing sutra tidak hanya memberikan kemudahan bagi pencari cacing sutra tetapi juga meningkatkan penghasilan. Berdasarkan penelitian dari Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat, Universitas Negeri Surabaya , produksi cacing sutra hasil budidaya ini menghasilkan cacing sutra dua kali lipat lebih banyak. Jika pada penangkapan alam dalam seminggu dihasilkan 100 gelas cacing sutra maka dengan budidaya menghasilkan 200 gelas.
Jika satu gelas cacing sutra harganya 5000 rupiah, maka penangkapan alam menghasilkan pendapatan 500.000 rupiah sedangkan , cacing sutra budidaya menghasilkan 1 juta rupiah. Merupakan peningkatan jumlah yang lumayan besar.